Sejarah Kesultanan Bima Pertama dan Berakhirnya Era Kerajaan
Kerajaan Bima yang didirikan atas restu Ncuhi (restu adat) berakhir
ketika mengalir ajaran baru yang datang dari Sumatera dan Sulawesi.
Begitu kerajaan laut Majapahit runtuh oleh orang dalam, Jawa pecah dan
meningkatkan dinamika antara saudagar-saudagar Tionghoa muslim, Gujarat
dan Eropa maka gerakan Islam atau gerakan ekonomi yang berbendera Islam
mendominasi kekuasaan baru di kawasan pesisir. Meluas dan termasuk
merajai tanah Sulawesi, hingga merebes ke kerajaan Bima yang tidak jelas
agama resminya.
Islam sudah memasuki pulau Sumbawa sejak abad 16 awal oleh penyiar dari
kerajaan-kerajaan pesisir Jawa seperti Demak, namun semakin jelas ketika
saudagar dan penyiar Islam datang dari Sulawesi, Goa, Tallo melalui
pintu perairan Bima dan Sape. tahun 1600-an .
Pada masa itu Bima tengah dirajai oleh La Kai, salah satu raja yang
sudah mengindetifikasi diri sebagai putra Bima bukan lagi nama - nama
Jawa seperti Indra Zamrud, Batara Bima Batara Indra Bima dst. La Kai
adalah orang yang menjadi raja di Bima abad 17 dan menjadi raja pertama
yang menerima Islam sebagai agama yang boleh disebarkan di Bima, dia
sendiri menjadi muslim dengan merubah namanya menjadi Abdul Kahir.
Setelah raja masuk Islam maka Islam menjadi agama resmi istana dan
penyebarannya menjadi mudah dengan menggunakan perangkat kekuasaan. Maka
sejak itu budaya penamaan orang di Bima berubah menjadi nama-nama
berbau Arab dan Timur Tengah, misalnya La Mbila menjadi Jalaluddin, Bumi
Jara Mbojo menjadi Awalluddin, Abubakar, Siti Hawa, Aminah, Nurul,
Ismail, Syaifullah, Abdullah dst.
Masuknya Islam di Bima bersamaan dengan adanya konflik internal istana,
dimana salahsatu pembesar istana (Salisi Ma Ntau Asi Peka) yang
melakukan teror dan pembunuhan pada beberapa penguasa wilayah, dan
gerakan ini diam-diam disokong oleh serikat dagang VOC yang sudah masuk
Bima dalam misi dagang. Dijadikannya Islam sebagai agama resmi istana
membawa keuntungan sendiri bagi kerajaan Bima, karena pada jaman itu
imperium Sulawesi sedang berjaya di seluruh kawasan Timur Nusantara dan
mengibarkan bendera Islam dalam segala misinya termasuk menghadang
ketamakan VOC dan Portugis yang mulai memperkuat tentaranya dengan
barisan Meriam.
Rupanya kondisi ini (Raja Bima masuk Islam / Pro-Sulawesi) dimainkan
oleh Belanda (VOC) dengan menyokong pemberontakan La Salisi dkk,
sehingga dalam wktu yang relatif singkat kerajaan Bima berhasil diduduki
oleh pemberontak. Raja BIma sendiri yang masih muda pengalaman bersama
Lam Mbila penasehatnya berhasil menyelematkan diri dan minta suaka
politik di Makassar. Sultan Makasar yang sudah mengetahui kabar
perkembangan Islam di Bima dengan senang hati menyambut raja Bima dan
dia mendukung penuh untuk merebut kembali kekuasaan kerajaan Bima
meskipun pemberontak itu didukung tentara VOC.
Maka Sultan Alauddin Awalul Islam mulai mengirim pasukan untuk menyerang
Bima dalam kekuasaan Pemberontak dan berhasil memukul mundul mereka
pada tahun 1640, sehingga barisan La Salisi Mantau Asi Peka melarikan
diri ke Dompu. Setelah berhasil merebut kembali kekuasaan maka Sultan
Abdul Kahir dan rombongannya kembali ke Bima bersama beberapa tokoh
ulama. Maka 3 bulan setelah kembali ke Bima, Abdul Kahir dikukuhkan
(kembali) sebagai SULTAN pertama Bima, yang menandai berakhirnya sistem
kerajaan.
Tata pemerintahan akan segera diatur berdasarkan syariat Islam dan
meninggalkan tata praja lama yang berbau Hindu. Sultan Abdul Kahir yang
kelahiran tahun 1601 adalah putra dari Raja Mantau Asi Sawo, raja
terakhir Bima. Sultan Abdul Kahir adalah sultan Bima yang pertama, dan
sultan yang menerima Islam sebagai agama resmi istana. Untuk mengukuhkan
koalisi dengan Goa maka dia menikah dengan adik istri Sultan Alauddin
dari makassar yang bernama Daeng Sikontu.
Tanggal 5 Juli 1640 adalah Penobatan Abdul Kahir sebagai SULTAN ISTANA
BIMA yang pertama, sebuah era baru bagi kekuasaan Bima. Bila dilihat
dari angka tahun ini maka kekuasaan Abdul Kahir tidak terlalu lama di
era kesultanannya, dia lebih lama berkuasa pada masa Kerajaan (sebagai
Raja La Kai).
Dari penjelasan diatas, kita bisa tarik kesimpulan bahwa masuknya Islam
di Bima didukung oleh kerajaan Makassar (Sultan Goa yang pertama)
melalui ulama-ulama Sulawesi dan Sumatera. Masuknya Islam di Bima dan
menjadi agarnya raja membuat gelisah VOC sehingga mereka mendorong
adanya kudeta La Salisi dan berhasil menduduki istana, kemudian direbut
kembali atas dukungan penuh laskar kerajaan Goa.
Kejadian ini menjadi salah satu akar konflik dengan VOC selain ekonomi,
karena dalam perkembangan selanjutnya VOC terus ingin mencengkram Bima
hingga akhirnya berhasil memecah belah antara Bima-Goa pada era Sultan
Hasanuddin.
Sultan Abdul Kahir adalah yang pertama meletakkan dasar keislaman bagi
kerajaan Bima dan tokoh yang membuka jalur bagi koalisi Bima-Sulawesi.
Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa pada masa itu Sulawesi menjadi
pusat dagang maritim di kawasan timur dimana menjadi bandar dunia yang
sangat hidup. Maka hubungan ekonomi antara Bima - Goa semakin meningkat
dan inilah yang menjadi intaian VOC yang kelak menghancurkan kedua
kerajaan ini.
Komentar
Posting Komentar